Total Tayangan Laman

Sabtu, 23 Oktober 2010

khutbah idul adha

“ MENUMBUHKAN SEMANGAT BERKORBAN”

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa Lillahilham
Allahu Akbar Kabira Wal Hamdulillahi Kasyira Wa Subhanallahu Bukrata Wa ashila


Hadirin Jamaah Idul Adha Yang Sama Berbahagia,
Saat Ini tanpa terasa kita kembali merayakan hari Raya Idul Adha rasanya baru kemarin kita merayakan Idul Adha tahun lalu. Memperingati Idul Adha berarti kita kembali mengenang perjuangan Nabiullah Ibrahim as bersama keluarganya yakni Nabi Ismail as dan Siti Hajar. Begitu banyak pelajaran bagi kita semua jika kita mengenang dan mengenal manusia agung bernama Ibrahim, sehingga Allah berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah Ayat 4:

قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَه...
ُSesungguhnya Telah ada Suri Tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan Orang-orang bersama dia (Qs. 60 :4)

Hikmah terbesar dalam kisah perjuangan Ibrahim adalah semangat berkorban yang ditunjukkan oleh Ibrahim dan keluarganya. Dengan semangat berkorban ini Ibrahim merelakan anaknya yang begitu dirindukan kehadirannya untuk dikurbankan demi melaksanakan perintah Allah SWT, semangat pengorbanan juga ditunjukkan oleh sang anak Ismail as yang bersedia menjadi kurban dengan resiko kehilangan nyawa demi melaksanakan perintah Allah SWT, ketegaran sikap Ismail ini diabadikan dalam Al-Qur’an surah as-shaffat ayat 102 :
...يَاأَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِين.
Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".

Demikian pula dengan sang ibu siti Hajar yang taat melaksanakan perintah Allah walau harus kehilangan putra tercinta. Semangat berkorban keluarga Ibrahim bisa dilaksanakan sebab mereka menempatkan kecintaan kepada Allah di atas kecintaan kepada yang lainnya.
Perlu pula diketahui bahwa peristiwa yang dialami oleh Nabi Ibrahim as yang puncaknya dirayakan sebagai idul adha atau hari raya kurban, harus mampu mengingatkan kita bahwa yang harus dikurbankan tidak boleh manusia, tetapi sifat-sifat kebinatangan yang ada dalam diri manusia seperti rakus, ambisi yang tak terkendali, menindas, menyerang dan tidak mengenal hukum dan aturan apapun. Sifat-sifat demikian itulah harus dikubur, dibunuh, ditiadakan dan dijadikan kurban (kedekatan) diri kepada Allah SWT demi mencapai derajad taqwa.
Semangat berkorban sangat kita perlukan dalam keadaan sekarang ini dimana negara kita terkhusus daerah kita masih diselimuti keprihatinan, seorang sahabat rasulullah mengatakan bila di sebuah darah terdapat kemiskinan atau bahkan kelaparan
Oleh karena itu dalam membangun daerah kita, membangun kampung kita mungkin saja kita mesti mengorbankan kecintaan kita kepada harta, kepada pujian, kepada jabatan kepada segala bentuk kepentingan pribadi demi kepentingan bersama. Tanpa ada orang-orang yang berani berkorban untuk kepentingan bersama maka yakinlah bahwa daerah itu tidak pernah mengalami kemajuan. Jika seorang pemimpin hanya mementingkan kepentingan pribadnya maka kapan dia akan berfikir kepentingan masyarakatnya, jika semua masyarakat hanya berfikir diri sendiri maka kapan ada kerjasama membangun daerahnya?.
Begitu pentingnya semangat berkorban ini, sehingga kewajiban berkorban disejajarkan dengan kewajiban kita melaksanakan sholat sebagaimana firman Allah dalam surah Al-Kautsar ayat 1-2 :
إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ
”Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkorbanlah”

Jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah
Menumbuhkan semangat berkorban memang tidaklah mudah dibutuhkan keyakinan kuat bahwa segala pengorbanan yang kita berikan akan dibalas oleh Allah swt. Untuk menumbuhkan semangat berkorban dalam diri kita bisa dilakukan dengan beberapa cara :
1. Menyadari pahala bagi orang yang berkorban. Seseorang akan tumbuh dan semakin semangat berkorban bila mengetahui nilai pahala dan keutamaan dari pengorbanan yang dilakukannya, meskipun yang dikorbankan itu nilainya kecil tetapi bila dilaksanakan sesuai kemampuan, maka nilai pahalanya akan tetap besar. Seorang muslim bisa saja berkorban dengan apa saja yang dimilikinya, kalau kita bisa berkorban dengan tenaga korbankanlah tenaga, begitu pula kalau kita punya ilmu, waktu, pikiran, harta, kekuasaan, singkatnya apapun yang kita miliki maka kita harus mengorbankan dengan penuh keikhlasan sehingga akan kita peroleh nilai pahala besar.
Di dalam Al-Qur’an Allah memberi gambaran orang yang mengorbankan hartanya di jalan dengan pahala yang amat besar. Allah berfirman :

مَثَلُ الَّذِينَ يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ أَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِي كُلِّ سُنْبُلَةٍ مِائَةُ حَبَّةٍ وَاللَّهُ يُضَاعِفُ لِمَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ وَاسِعٌ عَلِيمٌ
” Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji. Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.

2. Yang harus kita lakukan untuk bisa menumbuhkan dan memantapkan semangat berkorban adalah dengan menyadari bahwa kemajuan yang kita capai adalah karena adanya pengorbanan dari orang lain. Kita menjadi menjadi besar karena pengorbanan Bapak Ibu, ,kita menjadi pandai karena pengorbanan guru, kita memperoleh rizki juga karena pengorbanan orang lain, begitulah seterusnya.
Ini berarti kemajuan yang kita raih baik berupa kekuatan rohani maupun jasmani, kecerdasan akal dengan ilmu yang banyak, kedudukan yang kita peroleh semua tidak bisa terlepas dari pengorbanan orang lain. Maka menyadari hal itu bahwa orang lain telah berkorban demi keberhasilan kita maka tidak pastaskah kita berkorban pula bagi orang lain.
3. untuk dapat menumbuhkan semangat berkorban adalah dengan mengenal orang-orang yang telah melakukan pengorbanan baik harta, waktu, pikiran bahkan nyawanya. Sejarah mencatat begitu banyak orang-orang yang berkorban demi kebaikan dan kebenaran.
Kita lihat pengorbanan abu bakar as-shiddiq yang mengorbankan seluruh hartanya berjuang bersama rasulullah SAW, kita kenal pula sahabat Umar bin Khattab, usman bin affan, ali bin abu talib dan sahabat yang lain. Agama Islam tidak mungkin sampai kepada kita di Indonesia kalau tidak karena pengorbanan dari para juru dakwah menempuh perjalanan berbulan-bulan dalam menyebarkan dakwah.
Setelah kita mengenal mereka semua mari kita bandingkan dengan pribadi kita masing-masing maka akan terasa betapa kita sebenarnya belum punya pengorbanan meskipun mungkin kita sudah merasa telah berkorban banyak untuk masyarakat.
4. cara menumbuhkan semangat berkorban adalah dengan menyadari bahayanya sifat kikir, baik kikir dalam hal harta, ilmu maupun dalam masalah lainnya yang membuat kita tidak mau berkorban. Bahayanya sifat kikir nampak dari siksa yang Allah sediakan di akhirat kelak sebagaimana firman Allah : (4:37)

الَّذِينَ يَبْخَلُونَ وَيَأْمُرُونَ النَّاسَ بِالْبُخْلِ وَيَكْتُمُونَ مَا ءَاتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ فَضْلِهِ وَأَعْتَدْنَا لِلْكَافِرِينَ عَذَابًا مُهِينًا
”(yaitu) orang-orang yang kikir, dan menyuruh orang lain berbuat kikir dan menyembunyikan karunia Allah yang telah diberikan-Nya kepada mereka. Dan kami telah menyediakan untuk orang-orang kafir siksa yang menghinakan”

Kunci keberhasilan orang-orang bisa berkorban adalah ketika seseorang dapat menempatkan kecintaan kepada Allah di atas segala-galanya di banding kecintaan kepada harta, kepada keluarga, kepada jabatan dan lainnya. Untuk itu mari kita renungka firman Allah swt dalam surat At-taubah ayat 24 :
قُلْ إِنْ كَانَ ءَابَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّى يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ وَاللَّهُ لاَ يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Katakanlah: "Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan (dari) berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya." Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.

Semoga dengan idul adha akan menumbuhkan semangat berkorban di antara kita, berkorban demi kepentingan orang banyak dan berkorban dalam melaksanakan perintah Allah SWT.
Marilah kita berdoa kepada Allah, semoga kita diberikan kekuatan, senantiasa diberikan petunjuk dan diberikan semangat berkorban sebagaimana telah dilakukan oleh Nabi Ibrahim as.


Ya Allah engkaulah Gaffar
Ya Allah engkaulah rahim
Ya Allah engkaulah Rahman
Ya Allah, kami mohon kepada-Mu dengan segala pujian. Tidak ada tuhan selain-Mu yang maha pemberi, yang menjadikan langit dan bumi, pemilik kemuliaan dan ketinggian, wahai zat yang maha hidup dan berdiri sendiri
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami yang mendatangkan bencana, ampunilah dosa dan kesalahan kami yang yang merusak berkah-Mu, ampunilah dosa dan kesalahan kami yang menahan terijabahnya doa kami.
Ya Allah ampuni kami yang sering berjanji tapi tak menepati, yang mendapat amanah tapi khianat, yang mendapat nikmat tapi tidak bersyukur, yang terkadang mendapat ujian tapi tak mampu sabar.
Ya Allah berilah kepada pemimpin kami kekuatan sehingga dapat menjalankan pemerintahan secara amanah, tanamkanlah semangat berkorban demi kepentingan masyarakat kepada mereka
abbana atina fiddunya hasanah wa
Subhanakalhumma wa bi hamdika asyhadu alla ilaha illa anta astagfuruka wa atubu ilaika
Wal hamdulillahi rabbil alamin
Wa ssalamu alaikum wr.wb

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar